Ir. Donny Suryawan, S.T., M.Eng., IPP.

Sebagai orang yang beriman. kita harus meyakinai bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Manusia diciptakan secara khusus oleh Allah. Hal tersebut tertuang pada Al- Quran Surah Shaad ayat 71-72 berikut:

اِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ٧١

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ٧٢

Artinya:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (Q.S. Shaad : 71-72).

Selain ayat tersebut, Allah juga menegaskan penciptaan manusia pada Al- Quran Surah Qaaf ayat 16 yaitu:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

Artinya :
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Q.S. Qaaf : 16)

Tiga ayat tersebut hanyalah beberapa ayat yang menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah. Sebagai orang beriman tentu kita harus mengimani firman Allah tersebut. Pada batasan tertentu, manusia juga bisa menjadi pencipta. Robot adalah salah satu produk ciptaan manusia. Pada Batasan tertentu pula, kita bisa menganalogikan manusia seperti sebuah robot.

Secara sederhana dalam perancangan robot, perlu didefinisikan tentang tujuan dan alasan robot tersebut dibuat. Tujuan tersebut adalah sebuah target yang harus dilakukan dan dicapai oleh robot. Sebagai contoh adalah robot sepak bola. Sesuai Namanya, Robot sepak bola tentu dirancang untuk menjalankan fungsinya untuk menjadi seperti pemain sepak bola. Ketika robot tidak bisa menjalankan seperti tujuannya yaitu bermain sepak bola maka robot tersebut dianggap melenceng dari tujuan yang diprogramkan atau gagal. Jika hal tersebut dikaitkan dengan penciptaan manusia maka akan hampir serupa dengan tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman dalam Surah Adz Dzariyat ayat 56 yaitu:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya :
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada- Ku. (Q.S. Adz Dzariyat : 56)

Ahli tafsir menafsirkan ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan diciptakan manusia dan jin adalah untuk beribadah dan hanya menyembah Allah Semata. Selain itu, Ayat ini mengisyaratkan tentang pentingnya tauhid yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Bisa ditegaskan bahwa manusia hidup untuk sebuah tujuan yaitu beribadah. Jika manusia dan jin tidak mengimani dan melaksanakan apa yang sebenarnya tujuan mereka diciptakan, maka seperti halnya dengan analogi robot yang melenceng dari tujuan diprogramnya robot tersebut atau gagal atau melanggar dari fitrah manusia diciptakan. Untuk dapat mencapai tujuan (ibadah) yang benar, maka manusia diberi rambu rambu atau petunjuk tertentu dalam menjalankan beribadah. Hal tersebut tertuang pada firman Allah pada surah Al -Jasiyah ayat 18 berikut:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Artinya:
Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui. (Q.S. Al Jasiyah : 18)

Dalam potongan tafsir kemenag terkait ayat tersebut menunjukan bahwa Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar jangan terpengaruh oleh sikap orang-orang Quraisy karena Allah telah menetapkan urusan syariat yang harus dijadikan pegangan dalam menetapkan urusan agama dengan perantara wahyu. Maka peraturan yang termuat dalam wahyu itulah yang harus diikuti, tidak boleh mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahuinya . Jika ditarik dalam konsep kendali robotika, maka dapat diketahui rambu rambu dalam beribadah adalah sebuah pengenalan objek yang telah programmer atau pembuat robot tetapkan dan programkan agar robot dapat mencapai tujuan. Misalnya, Sebuah robot sepak bola diprogram untuk mengenali gawang sebagai tujuan. Maka programmer tentunya perlu memberikan parameter parameter tertentu pada robot agar dapat mengenali gawang dengan benar. Sebagai contoh adalah pengenalan gawang berdasarkan warna, bentuk atau dengan metode yang lainnya. Saat dijalankan, robot akan berusaha mendeteksi parameter parameter yang telah programmer robot berikan dalam program. Jika robot salah dalam menerjemahkan atau mengenali parameter dan fitur dari objek yang diberikan maka tentu robot tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang seharusnya diprogramkan atau dalam arti lain adalah gagal.

Pada praktek ilmu robotika dan sistem kendali, programmer atau pembuat robot juga dapat membuat dan memrogram sebuah robot untuk mengenali pembuat robot tersebut. Ada berbagai macam metode untuk membuat sebuah robot mengenali pembuatnya. Contoh sederhana, robot bisa diprogram untuk mengenali pembuatnya melalui pola wajah, warna kulit, bentuk tubuh atau kriteria lainnya yang hal tersebut mencerminkan diri pembuatnya. Tentunya, progarammer atau pembuat robot tersebut perlu mendefinisikan parameter parameter tertentu pada robot melalui program. Untuk dapat mengidentifikasi dengan tepat tentunya robot harus mengekstrak dan mengikuti fitur fitur yang diprogramkan. Robot juga bisa diprogram untuk memperluas analisis pengenalan tersebut dengan memberikannya kecerdaasan buatan didalamnya.

Dengan kecerdasan buatan robot dapat menganalisis dan membuat keputusan secara mandiri. Akan tetapi, adanya kecerdasan buatan yang berlebihan sangat dimungkinkan bahwa robot tersebut malah salah mendeteksi objek yang diberikan. Begitu juga dalam mengenali Allah, kita harus memahami nama dan sifat – sifat-Nya sesuai yang dinyatakan Allah. Meskipun manusia diberikan kecerdasan dan keleluasaan untuk menfasirkannya, Imam Ahmad berpendapat bahwa mereka tidak menakwilkan kecuali yang berupa arahan dan pemahaman yang menghilangkan kerancuan. Landasan mereka dalam hal ini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya dan mengharuskan kita sebagai manusia untuk mengimaninya . Hal tersebut termasuk mengimani sifat – sifat yang dinyatakan-Nya sendiri dalam kitab-Nya, Sifat – sifat yang dinyatakan Rasul-Nya, tanpa penyimpangan tidak pula pengabaian dan tanpa penetapan tata cara tidak pula penyerupaan. Hal tersebut adalah yang seharusnya dilakukan dalam mengenali Allah agar tidak terjerumus dalam pelencengan Aqidah Islam.

Kesimpulan
Tulisan ini berupaya menjelaskan bahwa sebagaimana robot harus mengikuti tujuan dan parameter yang ditetapkan pembuatnya, manusia sebagai ciptaan Allah juga harus menjalankan tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah sesuai petunjuk syariat. Analogi robotika digunakan untuk memudahkan pemahaman tentang fitrah manusia, pentingnya mengikuti wahyu, dan kewajiban mengenal Allah berdasarkan sumber-sumber yang sahih agar terhindar dari penyimpangan akidah.

Sebagai catatan, analogi robot dan manusia hanya digunakan sebagai alat bantu pemahaman. Dalam pandangan Islam, manusia memiliki akal, kehendak, tanggung jawab moral, serta kemampuan memilih yang jauh lebih kompleks daripada robot, sehingga analogi tersebut tidak dapat disamakan secara sempurna.. Wallahu’alam.

Ditulis Oleh: Irfan Aditya Dharma, S.T., M.Eng., Ph.D.

Islam merupakan satu-satunya agama yang diridhai Allah dan ditujukan sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia. Hal ini selaras dengan sabda Allah SWT dalam Qur`an Surah Ali `Imran ayat 19:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ ۗ وَمَا ٱخْتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْبِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi AlKitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran 3: 19) Read more

karakter tidak sehat vs sehat

Oleh : Ir. Muhammad Ridlwan, ST. MT. IPP

Bismillahirrahmanirrahiim

Hubungan antara atasan dan bawahan yang sama-sama memiliki karakter sehat—rendah hati, tulus, dan tidak mementingkan diri sendiri—akan menciptakan suasana kerja yang harmonis dan saling menguatkan. Ketika kedua pihak memulai interaksi dengan niat baik dan sikap terbuka, dinamika kerja menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Tidak ada rasa takut, curiga, atau kompetisi tidak sehat yang biasanya muncul dalam hubungan profesional yang kurang matang. Hubungan tersebut seperti tergambar dalam surat Ar Rum ayat 21.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Ar-Rum · Ayat 21) Read more

Ditulis Oleh: Purtojo, S.T., M.Sc.

Setiap manusia memiliki suatu sistem yang membantunya mengatur dan mengarahkan perilaku, yang disebut dengan pengendalian diri (self-control). Pengendalian diri merujuk pada kapasitas seseorang untuk mengatur, membimbing, mengelola, dan mengoordinasikan perilaku agar dapat menghasilkan hasil yang positif.
Dalam perspektif Islam, konsep ini dikenal dengan mujahadah an-nafs, yaitu berjuang melawan hawa nafsu pada diri sendiri. Hal ini berdasar pada kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah usai Perang Badar, “Wahai Rasul, apakah ada lagi peperangan yang lebih dahsyat dari peperangan ini (Perang Badar)?” Rasulullah menjawab, “Melawan hawa nafsu.”
Tujuan Pengendalian Diri
Pengendalian diri dalam Islam disebut juga dengan mujahadah an-nafs. Kata mujahadah berakar dari kata juhd yang berarti usaha yang dilakukan dengan sepenuh hati. Mujahadah an-nafs mengacu pada upaya sungguh-sungguh seseorang untuk mengendalikan hasrat serta keinginan. Konsep ini merupakan sebuah proses pembersihan jiwa menuju jalan yang diridai Allah . Read more

Ditulis oleh: Agung Nugroho Adi, S.T., M.T.

Bismillahirrahmanirrahim.
Dalam Islam, akal adalah anugerah besar yang menjadikan manusia mampu memikul tanggung jawab moral dan spiritual sebagai khalifah di muka bumi. Kemampuan berpikir tidak hanya difungsikan untuk urusan duniawi, tetapi juga sebagai sarana mengenali kebenaran, memahami wahyu, dan mengambil pelajaran dari ciptaan Allah. Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk bertafakkur (merenung), bertadabbur (memahami petunjuk), dan berta’ammul (memperhatikan realitas sekitar). Menariknya, aktivitas berpikir ini bukan sekadar refleksi spiritual, tetapi juga dapat ditelaah secara sistematis dan rasional.

Read more

Oleh : Yustiasih Purwaningrum

Bismillahirrahmanirrahim.

Disiplin adalah salah satu nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Ia bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi merupakan bagian dari akhlak seorang mukmin yang mencerminkan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Mengapa Disiplin Penting?

  • Menumbuhkan rasa tanggung jawab.
  • Membentuk karakter yang kuat dan terpercaya.
  • Menjadi cerminan keimanan dan ketaatan.
  • Membantu meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

Read more

Oleh : Fariz Alfian, S.T

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِينُهُ ونَسْتَغْفِرُهُ، ونَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، ومَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah.

Sebagai muslim yang taat, tentunya kita akan bersemangat dalam memperbanyak ibadah dan amal shaleh kita dalam rangka mencapai keridhoan Allah. Baik itu ibadah mahdoh (ibadah khusus) ataupun ibadah Ghairu mahdah (ibadah umum). Namun demikian, penting untuk kita ingat bahwasannya peribadatan-peribadatan yang kita lakukan, atau amalan yang kita lakukan tersebut tentunya harus memenuhi persyaratan. Mengapa perlu memenuhi persyaratan? Tentunya agar ibadah yang kita lakukan tersebut agar dapat diterima oleh Allah.

Lantas, dalam peribadatan kita sering kali memikirkan 2 hal, apakah amal yang banyak ataukah amal yang diterima yang akan kita kerjakan? Read more

Oleh: Ir. Faisal Arif Nurgesang, S.T., M.Sc. IPP

Ilmu berasal dari Bahasa Arab yaitu علم (“ilm”) yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Sehingga, orang berilmu bisa diartikan sebagai orang yang memahami, mengerti, atau mengetahui sebuah perkara, objek, bidang yang sedang dipelajari. Memahami sebuah perkara, objek, bidang tertentu merupakan sebuah hal yang wajib agar manusia tersebut tidak mengerjakan sesuatu diluar keahliannya. Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa:

فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Artinya: “Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu (Arab Badui) bertanya, “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi saw menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Al-Bukhari). Read more

Oleh : Rizki Wirantara

Bismillah was shalatu wa salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du’

Al-Quran menyebutkan kriteria karyawan yang idela di beberapa ayat. Dan semuanya dalam bentuk kisah, di antaranya :

  1. Firman Allah yang menceritakan tentang kondisi Nabi Yusuf saat di Mesir

Setelah Yusuf mentakwil atau mentafsir mimpi yang dialami penguasa Mesir, dia pun merasa senang dengan keberadaan Yusuf. Lalu, penguasa itu memberikan pujian kepada Nabi Yusuf, Read more

Disusun oleh Rahmat Riza, S.T., M.Sc.ME.

1. Pendahuluan
Sebagaimana sudah diketahui bahwa ayat Al Qur’an yang pertama kali turun berupa perintah untuk membaca seperti yang tertuang pada Surah Al ‘Alaq (96) ayat 1-5 yang artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Read more